JAKARTA - Di lereng Gunung Muria, praktik bertani kopi tidak sekadar berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam.
Sistem agroforestri yang dikembangkan masyarakat setempat terbukti berperan penting dalam melindungi kawasan resapan air, menekan risiko erosi, serta memastikan keberlanjutan penghidupan petani kopi.
Melalui pendekatan yang memadukan konservasi dan produktivitas, kawasan ini terus dijaga status ekologisnya lewat berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk penanaman puluhan ribu bibit pohon produktif.
Kementerian Kehutanan mencatat bahwa kawasan lereng Muria dikenal sebagai wilayah strategis dengan fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem.
Posisi geografisnya menjadikan kawasan ini krusial dalam menjaga ketersediaan air dan kestabilan lingkungan bagi wilayah sekitarnya. Karena itu, pengelolaan yang tepat menjadi keharusan agar fungsi ekologis dan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Peran Strategis dan Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala Seksi Wilayah I Perhutanan Sosial Yogyakarta Kementerian Kehutanan Ayi Firdaus Maturidy menyebutkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat merupakan elemen kunci dalam kebijakan nasional dalam pengelolaan kawasan penopang ekosistem.
“Gunung Muria memiliki peran dalam ekologis dan ekonomi, tetapi peran ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Sehingga peran para mitra, salah satunya Djarum Foundation dapat dilakukan berkelanjutan. Inisiatif kolaboratif seperti yang dilakukan di lereng Muria ini juga menunjukkan bahwa ketika masyarakat, komunitas, dan pihak swasta bergerak bersama, upaya konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan,” ujar Ayi.
Penanaman 60.321 bibit MPTS tersebut menjadi simbol konkret kolaborasi berbagai pihak. Bibit-bibit produktif itu diharapkan tidak hanya memperkuat tutupan lahan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi petani melalui hasil buah atau komoditas lainnya.
Inisiatif Konservasi Berbasis Masyarakat
Komitmen tersebut sejalan dengan inisiatif konservasi berbasis masyarakat yang digerakkan Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria) Teguh Budi Wiyono.
Sejak 2021, Teguh bersama 20 relawan dan petani kopi secara konsisten menanam dan merawat pohon di kawasan lereng Muria, dengan dukungan penyediaan bibit dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).
“Awalnya kami khawatir melihat kondisi Muria, terutama di sekitar sumber mata air yang mulai terbuka dan rawan. Dari situ kami mulai menanam bersama warga dan relawan. Pelan-pelan, tetapi rutin,” ujar Teguh.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten itu menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian kawasan. Penanaman di sekitar sumber mata air bertujuan memperkuat daya serap tanah sekaligus mencegah degradasi lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan pertanian kopi.
Dukungan Bibit dan Penguatan Ekonomi Petani
Teguh menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak memperkuat gerakan yang telah dirintis masyarakat.
“Bantuan bibit dari BLDF sangat membantu kami memperluas penanaman. Harapannya, pohon-pohon ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi petani, supaya Muria tetap lestari dan tetap menghidupi,” tambahnya.
Pendekatan agroforestri memungkinkan pohon pelindung dan tanaman produktif tumbuh berdampingan dengan kopi.
Sistem ini membantu menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, serta menciptakan ekosistem yang lebih stabil bagi tanaman kopi. Dalam jangka panjang, keberadaan pohon produktif juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Dengan kombinasi antara konservasi dan produktivitas, agroforestri kopi Muria menjadi contoh praktik pertanian berkelanjutan. Model ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan tidak harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat, melainkan dapat berjalan beriringan.
Gerakan OAOT dan Peran Generasi Muda
Sementara itu, Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara menyampaikan bahwa OAOT dirancang untuk mempertemukan gaya hidup generasi muda dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“OAOT berangkat dari keyakinan bahwa aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dan kolektif dapat memberikan dampak berkelanjutan. Melalui OAOT, kami ingin mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam gerakan lingkungan yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mutiara.
Gerakan digital One Action One Tree (OAOT) 2026 menjadi medium untuk mengonversi partisipasi publik menjadi aksi nyata berupa penanaman pohon. Dengan pendekatan ini, keterlibatan generasi muda tidak berhenti pada kampanye digital, tetapi berujung pada kontribusi langsung terhadap pelestarian lingkungan.
Pelatihan Pascapanen dan Pemasaran Kreatif
Mutiara menambahkan, dukungan BLDF tidak berhenti pada penyediaan bibit pohon. Organisasi di bawah Grup Djarum itu juga menyiapkan pelatihan pengolahan kopi pascapanen, praktik manual brew, serta sesi pendekatan kreatif dalam pemasaran kopi melalui media sosial.
“Pendekatan ini kami lakukan untuk mendukung visi para petani Kopi Muria dalam memperkenalkan Kopi Muria kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal,” lanjut Mutiara.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas produk dan daya saing Kopi Muria di pasar yang lebih luas. Dengan pengolahan pascapanen yang baik dan strategi pemasaran kreatif, nilai tambah produk dapat meningkat, memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.
Keseluruhan inisiatif ini menunjukkan bahwa agroforestri kopi Muria bukan hanya praktik budidaya, tetapi gerakan kolektif yang mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan ekonomi, serta partisipasi lintas sektor.
Penanaman 60.321 bibit pohon produktif menjadi tonggak penting dalam menjaga ekosistem lereng Muria sekaligus memastikan kawasan tersebut tetap menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.